Tradisi Ngelawar Klungah di Bali

Tradisi Ngelawar ini dilaksanakan setiap Hari Penampahan Galungan.Pada  saat itu pagi harinya seisi rumah sudah sibuk dengan Ngelawar, Ibu sibuk dengan panci dan penggorengannya  di dapur sementara Bapak akan sibuk Metektekan (istilah untuk aktivitas yang berhubungan dengan memotong ) di teras depan rumah dengan beberapa orang saudara.

Ngelawar adalah proses membuat lawar yakni sejenis makanan olahan khas Bali yang biasanya terbuat dari cincangan atau potongan daging dengan campuran kelapa beserta sayur tertentu. Makanan yang wajib ada di setiap upacara umat Hindu Bali dan perayaan  acara-acara adat.Mebat atau ngelawar yang sudah menjadi tradisi bagi umat Hindu dimanapun, termasuk di Kabupaten Jembrana. Lawar di Kabupaten Jembrana ini memiliki kekhasan tersendiri dari lawar yang lain. Lawar khas Jembrana ini unik karena ramainya bermusim. Lawar ini pun masih digemari walaupun terhimpit makanan modern. Lawar khas Jembrana ini disebut Lawar Kelungah.

Lawar ini di katakan memiliki kepuasan mistik karena masyarakat jembrana secara turun temurun dari jaman dahulu kala setiap penampahan galungan membuat lawar kelungah. Kebiasaan ini menjadi mentradisi dan melekat pada kehidupan masyarakat jembrana. Tradisi lain. Bagi masyarakat hindu di jembrana pada khusunya, sehabis memasak pasti terlebih dahulu diaturkan kepada tuhan yang maha esa melalui manifestasinya. Begitu pula saat habis membuat lawar klungah, biasanya masyrakat menyajikan sesajen yang di sebut sodo.

Selain memiliki kepuasan mistik,Lawar ini juga memiliki keunikan tersendiri. Pertama, terbuat dari batok kelapa muda sehingga rasanya lembut dan kenyal. Kedua, lawar ini memang khas Jembrana yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa. Ketiga, lawar ini jarang dijadikan ladang bisnis kuliner. Bagi masyarakat awam, memang tidak banyak yang mengetahui makna lawar kelungah, mreka semata-mata menjalankan tradisi budaya warisan leluhurnya. Namun demikian, meski tidak mengetahui secara pasti makna lawar kelungah, masyarakat jembrana begitu mempertahankan tradisi ini hingga sekarang.

Comments are closed.